foto scoopempire
foto scoopempire

Suasana Ramadan di Turki Serasa Puasa di Indonesia

Indonesia dan Turki merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Letak teritorial negaranya terpaut jarak yang sangat jauh. Turki terletak di sebagian Asia dan sebagian Eropa. Sedangkan Indonesia di sebelah ujung Tenggara benua Asia. Namun siapa sangka keduanya punya kesamaan dalam beberapa hal. Mulai dari ibu-ibu yang gemar menonton sinetron berbalut dramaturgi (tahu, kan? sinetron apa itu?) hingga warganya yang kalau makan tidak cukup hanya dengan hidangan satu porsi. Dalam tata bahasa, Turki menganut sistem aglutinatif yang bertitik berat pada imbuhan. Kamu perlu tahu, sub bab pelajaran Bahasa Indonesia tersulit bagi orang asing itu justru soal imbuhan.

Uniknya, dalam menyambut puasa Ramadhan terdapat satu tradisi masyarakat Turki yang serupa, bahkan nyaris sama dengan tradisi Indonesia. Ternyata kebiasaan membangunkan warga untuk berjibaku dengan hidangan santap sahur juga ada di Turki. Saat dini hari tiba, sejumlah penabuh drum turun ke jalanan seraya mencipta harmoni sehingga menjadi melodi. Mereka mengenakan seragam kebesaran berupa pakaian tradisional Ottoman. Kegiatan ini dilakukan sebulan penuh selama Ramadan. Tradisi ini dikenal dengan nama El Mesaharaty.

Kebanyakan dari para penabuh adalah pria dengan kisaran usia antara 40 hingga 50 tahun. Sangat jarang ada anak muda yang tertarik berprofesi sebagai penabuh drum. Disinilah letak perbedaannya dengan penabuh band kepret sahur di Indonesia yang justru mayoritas digeluti oleh anak-anak muda. Penghasilan dari hasil menabuh drum memang tidak seberapa. Pada hari-hari biasa selain bulan Ramadhan, para pelaku seni tradisional ini tetap menabuh drum di acara-acara pernikahan.

Ada lagi, nih! Kesamaan tradisi masyarakat Turki dengan masyarakat Indonesia. Orang-orang Turki juga bekerja di suatu daerah yang jauh dari kampung halaman. Mereka memiliki persepsi bahwa pekerjaan di kota dapat mengisi kantong celana sehingga menjadi lebih tebal. Padahal biaya hidup juga meningkat. Sama seperti persepsi orang Indonesia kebanyakan. Sejumlah besar warga negara kita tercinta juga memilih mata pencaharian yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta dan pulang kampung saat lebaran Idul Fitri tiba. Bedanya, orang-orang Turki justru berbondong-bondong mudik ke kampung halaman saat hari raya Idul Adha tiba.

Itu semua tentu hanya sebagian kecil tradisi antara Indonesia dan Turki. Tapi, kok, bisa serupa ya? Jangan-jangan nenek moyang kita dulu bersahabat dekat dengan nenek moyang orang-orang Bani Saljuk ini? Ya. Ternyata, Kesultanan Aceh di utara pulau Sumatera dulu pernah memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Ottoman Turki. Mengenai akulturasi budaya, perlu diadakan tinjauan lebih lanjut, ya. (Andi K. Herlan)*

—————-

* Penulis adalah peserta Workshop Creative Writing angkatan pertama yang diadakan oleh gregetan.com dan komunitas fiksimini.

 

About admin

Selain publikasi, tim Gregetan juga menyediakan online & digital campaign, layanan content, content creation, content partnership, native ads dan social media consulting. Info lebih lanjut hubungi redaksi@gregetan.com