foto inatimes.co.id
foto inatimes.co.id

Status Facebook Anak SMA Ini Menyentuh Banget

Baca status Facebook teman yang sedang galau, marah, kecewa, atau lagi senang mungkin sudah sering kamu lakukan. Urusan yang ditulis juga nggak jauh-jauh dari urusan pacar. Apalagi kalau teman kamu itu masih belasan tahun dan seumuran sama kamu. Tapi, apa yang ditulis Afi Nihaya Faradisa di akun Facebook-nya ini memang lain dari biasanya. Siswi SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi ini jauh banget dari kesan galau soal pacaran, apalagi mau narsis.

Status Facebook Afi Nihaya Faradisa memang diisi curhatan hati. Tapi, curhat dia bukan soal gebetan, pacar, atau mantan yang nggak bisa diajak balikan lagi. Cewek yang jadi langganan juara satu di kelas ini nulis tentang banyak hal yang jadi inspirasi buat orang lain. Topik yang dia pilih juga macam-macam mulai dari kebiasaan caci maki di media sosial, gampangnya orang percaya berita palsu alias hoax, sampai urusan puasa sejenak dari media sosial.

Afi Nihaya Faradisa nggak sekadar curhat di status Facebook yang dikelola sendiri. Dia ngajak orang-orang untuk berpikir lagi buat apa dan gimana manfaatin media sosial dengan baik. Kira-kira apa aja sih isi status Facebook Afi Nihaya Fardisa yang menyentuh banyak orang ini? Yuk, ikuti cuplikan beberapa status dia yang menyentuh banget ini:

26 September 2016
Karin Novilda adalah anak cerdas peraih nilai UN matematika tertinggi ke-3 di Provinsi Kepulauan Riau. Tapi, realita berkata bahwa nilai-nilai pelajaran hanya berguna untuk mencari pekerjaan, bukan untuk membelok-luruskan alur kehidupan seseorang.

Karin adalah potret hidup sebagian remaja yang tidak bisa disangkal adanya. Kita langsung lupa moralitas dan agama begitu keluar dari masjid atau gereja. Thomas Henry Huxley mengatakan: “Mungkin hasil paling berharga dari semua pendidikan adalah kemampuan untuk memaksa dirimu melakukan hal yang harus kamu lakukan saat hal itu harus dilakukan, entah kamu menyukainya ataupun tidak.”

Karin Novilda adalah saya, adalah kita semua. Kita tahu larangan kehidupan dari A sampai Z, tapi kita sama-sama sering melanggarnya dan yang aneh kita saling mencela hanya karena kesalahan kita berbeda.

23 November 2016
Biarkan mereka asyik menggunjing orang lain, tapi bukan Anda.
Biarkan mereka mempertahankan kebiasaan buruk dengan tetap berdoa meminta kebaikan, tapi bukan Anda.
Biarkan mereka merespon hal negatif dengan cara yang tak kalah negatifnya, tapi bukan Anda.
Biarkan mereka berharap hasil maksimal dengan usaha minimal, tapi bukan Anda.

29 November 2016
Hoax itu baaaanyak macamnya. Yakni segala sesuatu yang memenuhi unsur mengada-ada, memalsukan, memelintir, atau menambah-nambahi.
Menganalisa apakah sebuah postingan itu hoax caranya sangat mudah. Asal kita mau mikir sedikiiiiit saja, setelah itu cari fakta-fakta konkrit sebelum ikut menyebarkannya. Bukankah dalam Islam ada perintah tabayyun (mencari tahu) dan larangan bertaqiya?

6 Desember 2016
Saya mulai gamang, di manakah letak kegunaan semua hafalan, jika tidak bisa menjaga seseorang untuk membuang sampah pada tempatnya? Mengapa harus menghafal undang-undang, jika hal itu tidak mampu mendorong seseorang untuk menaati peraturan berkendara? Apakah yang salah dari pendidikan kewarganegaraan dan pancasila jika itu semua tidak mampu menghentikan seseorang untuk bersikap intoleran?

Mengapa siswa menyontek saat ujian padahal tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kejujuran? Bahkan saat ulangan AGAMA pun kita melakukan kecurangan berjamaah!

10 Desember 2016
Pernah dengar eksperimen kristal-kristal air oleh ilmuwan Jepang Masaru Emoto? Penelitian menyimpulkan bahwa kata-kata yang baik (misal; cinta, terima kasih, dsb) mempengaruhi keindahan kristal air, sebaliknya, kristal dalam air akan menjadi jelek dan tak beraturan jika air didekatkan pada sumber kata-kata yang tidak baik (misal; aku membencimu, kau tak berguna).

Bayangkan jika tubuh kita yang 70% terdiri dari air ini suka mendengungkan kata-kata yang tidak baik. Siapa yang pertama akan terkena dampaknya?

Jadi, wajar dong jika semakin aku mencaci maki seseorang, aku sendiri yang akan makin ‘sakit’. Yang kucaci maki tidak merasakan apa-apa, justru kasihan kepalaku, kasihan jantungku, kasihan paru-paruku, kasian lambungku jika aku terus menerus mencaci maki dirimu. Rugi banget gak sih?

 

About admin

Selain publikasi, tim Gregetan juga menyediakan online & digital campaign, layanan content, content creation, content partnership, native ads dan social media consulting. Info lebih lanjut hubungi redaksi@gregetan.com