Thinking

Mengingat untuk Melupakan

 

Di pengujung musim hujan, aku sempat disimpulkan oleh mama sebagai anak remaja berumur 16 tahun paling tidak punya teman sedunia. Dan beberapa orang mencapku sebagai makhluk Anti-Sosial. Aku menolak cap tersebut dan mama meminta pembuktian untuk membuktikan bahwa aku bukan golongan remaja anti-sosial. Dan karena mama merasa aku sungguh-sungguh ingin membuktikan padahal tidak, ia mendaftarkanku di jajaran Relawan Tamasya Akhir Pekan untuk menemani para Personil Tetap sebuah Panti Jompo. Dan untuk pertama kalinya akhir pekanku menjadi akhir pekan terburuk sepanjang sejarah.

Sabtu pagi aku diinstruksikan untuk berkumpul bersama para relawan lain di sebuah sekolah. Aku tidak menentang tindakan mama yang mendaftarkanku menjadi salah satu Relawan karena aku bukan tipe orang yang mau repot-repot menghabiskan tenaga untuk memaksakan keinginanku sendiri, tapi aku juga tidak mau disebut pasrah, ini hanya sebagai bentuk dari patuh sekaligus tidak peduli di waktu yang bersamaan.

Mama menginstruksikanku untuk berbaur dengan para relawan lain dan aku mendekat ke arah orang-orang yang memakai sweater membentuk sebuah perkumpulan, dan aku melihat orang-orang yang kelihatannya bukan orang-orang berumur 16 tahun. Mereka terlihat tua, memakai pakaian tebal, dan tidak ada remaja. Aku meragukan dapat berbaur sampai seorang ibu-ibu yang sedang menggenggam sebuah gelas plastik mendekatiku, tersenyum dan berkata:

“Aku kira dunia ini kehabisan remaja yang memiliki jiwa sosial. Apalagi perempuan, siapa namamu?”
“Alaska.” Kataku.
“Berapa umurmu?”
“Enam belas.” Kataku lagi dengan nada monoton
“Oh,” mulutnya terbuka dan matanya sedikit membesar, ia terkejut seolah mendapat kabar bahwa ia memenangi undian bernilai seratus juta “Tidak ada yang semuda-mu di sini, aku harap kau bisa berbaur dan mendapat pahala berlimpah dari Tuhan.” Kemudian dia pamit untuk menyesap kopi.

Aku tersenyum dan bersyukur dia tidak menanyaiku bagaimana aku bisa sampai ada di sini sepagi ini. Saat itu juga aku baru menyadari kalau mama sudah meninggalkanku seorang diri bersama orang-orang asing yang tidak jelas identitasnya dan tidak menutup kemungkinan kalau ini sebuah komplotan penculikan remaja perempuan untuk dijadikan budak Seks di Negara terpencil. Tapi berhubung orang tua-ku Pecinta Pemikiran Positif, aku tertular Pemikiran Positif mereka dan tidak terlalu mempermasalahkan tentang orang-orang asing.

Aku mengedarkan pandang dan mendapati 20 orang relawan, aku tidak dapat melihat wajah mereka semua karena ini masih subuh dan pencahayaan tidak dimaksimalkan, hanya terlihat berbagai macam siluet kecuali ibu-ibu yang mendekatiku tadi. Lima menit kemudian sebuah SUV memasuki kawasan dibarengi beberapa mobil SUV lainnya dan total ada 5 mobil SUV terparkir di lapangan sekolah ini. Seseorang keluar dari dalam SUV dan membagikan kami semua sebuah amplop dan kami diinstruksikan untuk membacanya lebih dulu.

Sebenarnya tidak ada terlalu banyak tulisan yang harus dibaca, ini hanya selembar kertas berisi foto perempuan tua dan biodata dirinya.

“Lihat bagian diagnosanya,” kata orang yang memberiku amplop. Aku membacanya:

Demensia Alzheimer
Dan aku mulai bingung dengan Demensia Alzheimer. Jadi aku mendekati orang yang memberiku amplop—pria berumur sekitar empat puluhan, dengan topi dan mengenakan sweater bertuliskan FREEDOM di punggung, ia sedikit terkejut melihatku. Dan gaya berpakaiannya lebih muda ketimbang usianya

“Apa maksud dari Diagnosa?” tanyaku.
“Itu penyakit yang mereka alami. Ngomong-ngomong masing-masing dari kita akan menangani satu orang tua dengan penyakit yang berbeda-beda—berapa usiamu?”

“Enam belas,” kataku, tidak merayakan kekagetannya karena aku adalah anak termuda di sini, aku langsung menambahkan “Demensia Alzheimer, apa maksudnya?”

“Kau mendapatkan itu?” nadanya seolah menyiratkan bahwa aku baru saja memecahkan Enigma “Aku membagikannya secara acak dan rata-rata setiap orang mendapatkan orang tua dengan diagnosa seperti osteoporosis, masalah penglihatan, atau lumpuh—jadi mereka menggunakan kursi roda—dan aku rasa hanya ada satu orang tua yang mengidap Alzheimer. Maksudku, mendorong kursi roda lebih mudah ketimbang menangani pengidap Alzheimer, mereka memiliki masalah dengan ingatan jangka panjang dan sejujurnya cukup merepotkan. Mau tukar denganku?” pria itu menawarkan tapi entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik, jadi aku menjawab:

“Mm, tidak, kurasa.”
“Baiklah, semoga beruntung… siapa namamu?” dia memberikan tangannya untuk dijabat.
“Alaska.”
Setelah kembali mengabsen, kami berangkat menuju Taman Bunga.

Kami berkumpul di parkiran, membentuk sebuah barisan acak sambil menunggu bus yang mengangkut para personil Panti Jompo datang. Aku mencoba menghabiskan waktu dengan cara menganalisis kepribadian setiap relawan yang ada, seperti menebak usia, tingkah laku, warna favorit, atau apapun juga. Tapi bus sudah datang dan aku tidak jadi menganalisis.

Para Orang Tua menuruni bus dan 13 dari 20 orang tua memakai kursi roda lipat yang sudah mereka bawa secara pribadi, dan semuanya memakai jaket yang tebal, mengingatkanku pada orang-orang eskimo.

Kami membuka surat masing-masing dan menghampiri wajah-wajah orang tua yang secara sekilas semua terlihat sama. Sama-sama tua, keriput, dan berambut putih. Dan aku mencari seorang perempuan yang seumuran dengan nenekku bernama Seren. Nenek-nenek dengan wajah bugar, keriput pipinya yang kendur, dan senyumnya yang berusaha tampil, seperti itulah yang terpampang di foto. Dan aku melihatnya, nenek Seren keluar paling akhir dari bus, rambut putihnya bergelombang sebahu dan tidak terlalu tinggi, mengenakan pakaian yang tipis, seperti baju terusan lengan pendek berwarna abu-abu, kaki rentan dengan urat-urat biru yang timbul samar-samar dipakaikan flat shoes ungu tua yang menurutku sebagai Pengkhianatan Keserasian (maksudku, baju terusan abu-abu dengan flat shoes ungu tua? Itu kombinasi warna terburuk yang pernah ada dalam sejarah berpakaian), menggantungkan tas kecil warna pink di lengan kirinya, dan mengalungkan sebuah kamera Polaroid di lehernya. Kamera yang cukup besar dan kukira cukup berat untuk diangkat oleh seorang nenek-nenek. Dan aku mulai berpikir bagaimana caranya ia tidak kedinginan dengan pakaian seperti itu.

Aku mendekatinya dan ia melihatku, aku mengulurkan tangan menawarkan berjabat tangan dan ia malah terlihat kebingungan sampai aku berkata:

“Halo, aku Alaska.” Dia menatapku dengan tatapan yang mengatakan Kau-baru-saja-membocorkan-rahasiaku. Tapi lama-lama tatapannya beringsut menjadi hangat dan ia mengangkat kameranya, membidikku yang sedang mengulurkan tangan dan memotretku. Hasil foto-nya langsung keluar dan ia menulis sesuatu di belakang kertas foto itu dan berkata:

“Aku akan mengingatmu, Alaska.”

Setelah perkenalan kami yang kelihatannya tidak berhasil, kami berjalan bersandingan. Hampir seluruh orang tua perlu dibantu untuk menapaki anak tangga atau saat menginjak rumput yang basah. Tapi, tidak dengan nenek Seren, dia masih cukup kuat untuk menuruni tangga atau menaiki tangga sendiri dan ia tidak terlihat serapuh yang lain, dia menggotong kamera yang cukup berat dan membawa tas dan pakaiannya lebih tipis dari yang lain. Bahkan kadang dia berjalan lebih cepat dan mendahuluiku.

Ketua Relawan memperbolehkan setiap pasang berpencar dan ‘mencari kesenangan sendiri’ dan berkumpul lagi di depan pintu masuk menjelang makan siang. Mendengar itu nenek Seren langsung berjalan cepat menuju bunga yang membentuk Brontosaurus raksasa dan mengamatinya dari dekat. Aku menyusulnya, menapakkan sepatu kets di atas rumput basah membuatku nyaris tergelencir beberapa kali tapi akhirnya sampai di sisinya.

“Binatang ini sudah punah, kan?” tanya nenek Seren.

“Betul,” kataku. Aku mulai mempertanyakan peranku sebagai Relawan sebab jika peran Relawan hanya menjaga agar para Orang Tua tidak terjatuh, nenek Seren sama sekali tidak membutuhkanku karena dia terlihat sangat sehat. Bahkan aku yang nyaris terjatuh.

“Tenang saja,” kata nenek Seren tiba-tiba “Aku tidak akan tiba-tiba kejang, lumpuh, atau terkena serangan jantung. Aku sehat, hanya saja aku tidak ingat seperti apa rasanya ‘sehat’.” Dan ia menatapku seolah mampu membaca pikiran, aku tidak bisa tidak menatapnya jadi aku hanya tersenyum berharap senyum adalah respons terbaik.

“Kau tahu. Aku bercita-cita ingin membuat sebuah buku biografi kehidupanku,” katanya lagi dan memancingku untuk bertanya:

“Seberapa banyak hal yang nenek ingat?”
“Namamu. Alaska.” Dan itu terdengar lucu sekaligus menyedihkan.
“Ironi bukan? Biografi artinya kau harus mengingat segala kejadian. Saat kau lahir, peristiwa besar, dan pencapaian-pencapaian fantastis. Tapi yang aku ingat hanya gadis remaja bernama Alaska. Ayo kita cari tempat yang lebih bagus,” katanya dan ia beranjak dari brontosaurus.

Kami menuju Taman Labirin. Kerangka daun yang ditata menyerupai bangunan labirin setinggi lututku terlihat cukup menarik. Nenek Seren memasuki jalan labirin yang lebarnya hanya untuk satu orang dan ia hanya berputar-putar melewati jalan labirin yang menyambung dengan jalan lain yang membuatnya kembali ke awal. Aku hanya membuntutinya, berjaga-jaga agar ia tidak tiba-tiba terjatuh. Bagaimanapun juga ia nenek-nenek.

“Ingatan kita seperti labirin,” kata nenek Seren yang masih berjalan, aku dapat mendengarnya dan tidak tahu harus merespons apa sampai ia berkata lagi “Kau berputar-putar kemudian sampai pada suatu tempat dan berjalan ke tempat yang lain dan kau tidak mampu mengingat tempat pertama sampai kau mencoba kembali tapi pada akhirnya kehidupan ini tidak dirancang untuk mundur.” Kemudian ia sampai pada jalan keluar yang membuatku terkesan bahwa ia bisa keluar dari labirin atau memang jalanan labirin ini yang tidak membawanya kemana-mana (dan memang tingkat kesulitan labirin ini cukup mudah). Nenek Seren membidik Taman Labirin dengan kamera polaroid dan memotretnya.

Lalu nenek Seren mengumumkan bahwa kaki kurusnya menjerit dan ingin duduk. Jadi kami duduk di atas rumput basah yang bersih karena tempat duduk Legal jaraknya agak jauh.

“Kau tahu, aku bersyukur terkena Alzheimer,” kata nenek Seren tiba-tiba. Membuatku bertanya “Kenapa?” dan ia menjawab “Karena semua hal yang kulakukan menjadi pertama kalinya untukku. Seperti, ini pertama kalinya aku duduk di atas rumput.” Dan aku takjub akan perkataannya, membuatku menyimpulkan nenek Seren cukup cerdas untuk ukuran orang yang terkena Demensia Alzheimer.

“Uh, oh. Tunggu sebentar, lihat ini.” nenek Seren merogoh tas kecilnya dan mengambil setumpukan foto dan mencari-cari selembar foto yang dikehendakinya dan memperlihatkan padaku. Foto itu menampilkan nenek Seren yang tidak terlalu keriput di suatu ruangan bersama pria yang mengenakan jas lab putih, seperti di ruangan dokter “Ini hari aku dinyatakan kalau aku terkena Demensia Alzheimer. Aku berinisiatif untuk memotretnya dan membuat catatan di baliknya agar aku terus bisa mengingatnya.”

Kemudian nenek Seren mengambil foto lain dan memperlihatkan foto seorang perempuan muda berambut panjang, bola matanya berwarna hitam pekat dan garis rahangnya nyaris menyerupai nenek Seren, perempuan muda itu tersenyum dan senyumnya tulus sebab matanya terlihat ikut tersenyum “Ini anak perempuanku.” Nenek Seren memberitahuku “Dia cantik, kan?”

“Tidak diragukan lagi,” kataku, tidak bosan memandangi foto hasil kamera polaroid.

Lalu nenek Seren meletakkan setumpukan foto di atas rumput basah dan memandang ke arah depan dengan tatapan kosong, jenis tatapan menerawang, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu dan gagal. Dan aku baru menyadari, walaupun ia terlihat bertenaga daripada orang tua yang lain—yang harus dibantu untuk berjalan—nenek Seren tampak sama dengan yang lain, tidak ada kelebat energi dari dirinya kecuali caranya menatapku atau menatap langit.

“Sejujurnya, aku bersyukur karena aku bisa melupakan segalanya. Bahkan jika itu melupakan diriku sendiri atau Tuhan sekalipun,” katanya. Dan aku, sebagai remaja Relawan yang jarang mengobrol agak kebingungan untuk meresponsnya. Tapi sepertinya nenek Seren lebih senang berceloteh ketimbang menerima jawaban sebab ia tidak akan ingat jawaban yang diberikan.

“Anugerah melupakan serta kutukannya menjadi satu. Kau melupakan kenangan indah sekaligus buruk dan disitulah sisi menariknya. Kau akan lupa pada seseorang yang pernah menodongkan pistol di kepalamu dan kau tidak lagi menjadi pendendam egois. Begitu juga kau akan lupa pada seseorang yang memberimu ciuman pertama dan orang yang menggenggam tanganmu saat kau menangis.” Aku mendengarnya dan aku merasakan ada yang mencuat dari dalam diriku, seperti aku ingin menangis mendengarnya karena itu terdengar sangat menyedihkan tapi benar.

“Uh, benar, kurasa. Sejujurnya aku ingin melupakan hal-hal buruk yang pernah menimpa diriku,” kataku, akhirnya bisa membaur pada topik.

“Usaha yang sia-sia. Memangnya, bagaimana caramu untuk melupakan?”
“Mm, entahlah.”

“Ha-ha. Kau tahu bahwa percakapan kita sekarang ini akan aku lupakan, kau tidak marah, kan?”
“Yeah, aku tidak marah. Hanya saja terkesan aneh.”
“Uh, oh! Tunggu, kau mau tahu cara untuk melupakan?” nenek Seren berlogat seolah baru saja menemukan sesuatu yang barangkali ia lupakan dan tiba-tiba mengingatnya.
“Bagaimana?”
“Cara yang paling menyenangkan untuk melupakan adalah mengingatnya terlebih dahulu,” katanya dan aku tertegun.
Mengingat bahwa nenek Seren adalah pengidap Demensia Alzheimer, penyakit yang kurasa tidak meruntuhkan fisik melainkan meruntuhkan emosional dan aku rasa itu lebih menyakitkan ketimbang kanker atau apapun.

“Ayo kita jalan-jalan,” kata nenek Seren dan ia beranjak. Melupakan tumpukan foto yang ia letakkan. Itu sama saja ia meninggalkan ingatannya. Jadi aku mengambil kumpulan foto itu dan dengan dorongan remaja yang Selalu Ingin Tahu, aku melihat-lihat foto yang sebagian besar adalah foto anak perempuannya dan melihat catatan di balik foto seperti : “Hari ulang tahun anakku,” , “Hari pernikahan anakku.” Dan aku berhenti memilah foto karena aku mendapati foto yang agak membuat penasaran, kameranya tidak fokus tapi menampilkan sebagian potret seorang perempuan muda yang terbaring di atas kasur dengan mata terpejam, terlihat selang infus disitu, dan foto itu sepertinya diambil saat seseorang atau lebih sedang mendorong kasur dan menyebabkan hasil foto ini tidak terlalu jelas. Dan aku membaca catatan di belakangnya: “Hari kematian anakku.”

Dan aku terkesiap. Berusaha tidak menangis dan kembali memilah foto yang lain. Dan aku sampai pada fotoku yang diambil di depan bus, menampilkan aku mengulurkan tangan lalu membaca catatan di belakangnya: “Oh Tuhan, anakku terlahir kembali dalam sosok remaja bernama Alaska.”

Dan aku sadar, nenek Seren sama sekali tidak melupakan anaknya. Dia terjebak dalam ingatannya. Dia mengorbankan segala ingatannya direnggut asal ingatan tentang anaknya tidak hilang. Bagaimanapun juga saat nenek Seren tidak memiliki apa-apa lagi untuk dinikmati, ia masih memiliki kenangan anaknya untuk dinikmati. Aku tidak tahu apakah nenek Seren merasa bahagia atau menderita hidup dalam satu kenangan, tapi yang pasti segala sesuatu menjadi hal baru untuknya. Dan, yeah, aku rasa aku tidak jadi menjadikan akhir pekan ini sebagai akhir pekan terburuk sepanjang sejarah, karena hari terburuk sepanjang sejarah cepat atau lambat akan datang dan akan ada saatnya seluruh umat manusia melupakannya.

—————————

Mengingat untuk Melupakan adalah cerpen karya Reza Reinaldo, peserta workshop creative writing bareng gregetan dan fiksimini angkatan pertama, 19 Desember 2015.

 

About admin

Selain publikasi, tim Gregetan juga menyediakan online & digital campaign, layanan content, content creation, content partnership, native ads dan social media consulting. Info lebih lanjut hubungi redaksi@gregetan.com